Cerita Inspirasi

Nama               : Devi Ardelia Purbonisari

NRP                 : F24100071

Laskar              : 10

CERITA 1

Suatu hari tepatnya seminggu sebelum hari ulangtahun aku, aku mendapat sebuah hadiah dari salah seorang teman baik. Yaitu sebuah kucing. Saat mendapatkannya aku sangat terkejut dan senang. Memang sudah lama sekali aku menginkan seekor kucing, kira-kira sudah satu tahun lebih. Kucing yang aku dapatkan merupakan kucing anggora yang sangat lucu dan menggemaskan. Kucing tersebut selalu aku rawat, aku jaga dan tentunya aku sayangi. Kucing pemberian temanku itu aku beri nama Mimi.

Banyak hal-hal yang aku alami setelah memiliki Mimi, ketika sekolah aku merasa ingin cepat pulang agar dapat segera bertemu Mimi, aku jadi senang berada dirumah, selain itu aku juga merasa terhibur karena bisa bermain dengan Mimi. Aku merasa dengan merawat seekor binatang juga dapat melatih kesabaran aku, karena sebelumnya aku susah mengontrol emosi .

Suatu hari, suatu yang buruk terjadi. Hari itu adalah jadwal aku untuk membersihkan kandang Mimi dan memberinya makan. Sesampainya di kandanng Mimi, aku tak melihat kucing ku disana, yang aku lihat hanyalah sebuah kandang kosong. Aku mencoba menenangkan diriku terlebih dahulu dengan cara menutup mataku dengan menggunakan tangan, lalu aku tarik nafas dalam-dalam. Ketika aku buka kedua tangan yang menutupi mataku, ternyata Mimi benar-benar tidak ada di kandangnya

Mimi hilang! Setelah aku periksa lagi kandang Mimi ternyata pintu kandangnya terbuka. Saat itu juga aku menjerit dan semua keluargaku pun menghampiri aku, air mata ku keluar dengan deras. Melihat apa terjadi dan setelah aku ceritakan semuanya, keluargaku pun membantu aku mencari Mimi di sekitar rumah hingga keluar rumah. Aku bertanya kepada tetangga sekitar rumah ku dan semua jawaban mereka sama, yaitu tidak ada yang melihat Mimi keluar dari rumah ku. Aku panik, akhirnya aku menangis lagi.

Setelah kejadian itu, hari-hari aku selalu dihantui perasaan sedih dan bersalah. Aku benar-benar merasa kehilangan Mimi, selain itu aku juga merasa bersalah kepada teman baik ku yang telah memberi Mimi kepada aku. Perasaan sedih yang aku rasakan sampai mempengaruhi pelajaran aku. Aku jadi malas belajar karena terbayang hilangnya Mimi. Nilai ulangan-ulangan aku pun turun drastis.

Ibu dan sahabatku sebenarnya sudah memberikan aku semangat dan saran agar segera melupakan kejadian hilangnya Mimi. Tapi bagiku kejadian hilangnya Mimi adalah hal yang tak mudah dilupakan begitu saja, karena akibat keteledoran aku, Mimi kucing yang paling aku sayangi hilang dan aku merasa telah menghianati kepercayaan teman ku.

Seiring berjalannya waktu, kesedihan yang berlarut-larut dan bayangan kejadian hilangnya Mimi pun menghilang. Dan aku pun sadar bahwa segalanya telah terjadi dan masalah tersebut tidak akan terselesaikan dengan tangisan. Akhirnya aku kembali semangat dalam belajar, nilai-nilai aku kembali meningkat. Ibu aku dan teman-teman pun merasa senang meliahat aku telah berubah. Sekarang aku hanya dapat berdoa agar Mimi ditemukan oleh seseorang yang baik dan dapat merawat Mimi dengan sebaik-baiknya.

CERITA 2

Ini adalah sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang teman baik saya yang kini telah kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri yang terdapat di kota Bandung. Sebelum dia bercerita kepada saya, dia memberitahukan bahwa cerita yang akan diceritakan, dia dapat dari seorang kakak sepupunya yang juga menuntut ilmu di universitas negeri tersebut.

Cerita ini mengisahkan tentang seorang mahasiswa di universitas tersebut. Katakanlah mahasiswa tersebut bernama Fuad. Fuad adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara di keluarganya, dengan seorang Ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik dengan gaji yang amat pas-pasan dan seorang ibu yang tidak bekerja karena waktunya terkuras untuk mengurus rumah, ayah serta adik-adik Fuad.

Fuad adalah seorang yang benar-benar tidak mengenal kata menyerah. Impiannya adalah dapat bersekolah setinggi-tingginya sehingga bisa membahagiakan orang tuanya. Suatu hari Fuad pun diterima di universitas yang kini menjadi universitas teman baik ku. Temanku menekankan perkataannya bahwa pada saat masuk kuliah Fuad masuk hanya bermodalkan sebuah kata tidak menyerah, Fuad tak punya apapun untuk bisa hidup di bandung. Akhirnya masuklah ia di universitas tersebut. Dia tak punya uang, untuk membeli makan pun susah sekali. Yang lebih ironis Fuad tidak punya kostan

Karena Fuad tidak memiliki kostan sebagai tempat tinggalnya, maka kesibukannya adalah mencari tempat tumpangan kepada teman-temannya, atau tinggal di masjid atau mushala bahkan kata teman aku tersebut Fuad pernah tidur di jalanan. Berkali-kali atau bahkan sering sekali caci serta maki ia dapatkan, tapi dia tetap tegar menjalani kehidupan.

Suatu hari Fuad bertemu dengan Amir (kakak sepupu teman baikku). Amir mendeskripsikan Fuad saat itu kepada teman ku adalah seorang laki-laki yang amat kurus, berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang. Lalu teman ku  menambahkan penjelasannya kepada aku, bahwa saat Amir mendeskripsikan bagaimana sosok Fuad kepada teman ku tersebut, ia sudah merasa iba dengan Fuad.

Teman, ternyata jadwal makan dari Fuad sungguh sangat miris, jadwal pertamanya di pagi hari dia hanya makan dengan sebungkus roti yang harganya Rp 2000,-. Jadwal keduanya makan di jam 2. Dan Fuad makan 2 kali sehari.

Fuad bertahan hidup dengan mengais rejeki dengan mengajar anak-anak sekolah, mungkin harusnya cukup bagi dia tapi tunggu dulu, Fuad masih memiliki tanggungan lain yaitu adik-adiknya. Hidup memang tak selamanya manis tapi ini terlalu pahit. pada suatu hari Amir berniat ngajak makan dan mencoba untuk mentraktirnya tapi Fuad tidak mau. Fuad boleh miskin namun Fuad bukanlah seorang pengemis. Harga diri yang tinggi itu justru yang membuat dia terus survive.

Fuad mengerjakan tugas-tugas kuliah lainnya dengan cara meminjam laptop temannya. Cara dia, pertama dia tidur selalu lebih awal dari yang lain sambil berkata pada temannya “boleh pinjam laptopnya” kata Fuad ke temannya (tentunya Fuad sedang menumpang di teman tersebut), kata temannya “tapi Ad, saya juga perlu” dan Fuad berkata “Iya, saya nanti pinjamnya setelah kmu selesai” dia kemudian tidur dan mengerjakan tugas-tugasnya sangat larut malam atau bahkan pagi hari. Tidak hanya itu Fuad hanya memiliki satu flashdisk. Bagaiman perasaan Anda ketika Fuad berkata “Flashdisk saya kena virus, dan tugas-tugas saya hilang” ?

Inilah Hidup, Fuad Harus Berani mengahadapi kenyataan Hidup yang pahit. Belum tentu kita mampu hidup layaknya Fuad, kita mungkin sudah menyerah jauh-jauh hari. Hidup pahit Fuad selama 4 tahun di universitas negeri tersebut berakhir manis Fuad mendapat nilai yang baik.

Teman-teman cobalah kita seperti Fuad, tidak pernah menyerah atau pun putus asa, karena sesungguhnya selalu ada jalan bagi kita jika kita percaya dan tetap berusaha.

Published in: |on September 15th, 2010 |No Comments »